Al-Farabi

Al-Farabi (872-950M).

Filosof besar lain dalam Islam adalah Abu Nasr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Uzlagh al-Farabi. Al-Farabi adalah putera dari seorang panglima perang Dinasti Samani (874-999M) yang berkuasa di daerah Transoxania dan Persia. Nama al-Farabi berasal dari nama tempat kelahirannya, yaitu Farab, Transaxonia; dilahirkan pada tahun 872 M, dan berasal dari keturunan Turki.

Sewaktu muda ia pergi ke Bagdad, pusat ilmu pengetahuan dan filsafat, dan ia belajar filsafat, logika, matematika, metafisika, etika, ilmu politik, musik dan lain-lain. Al-Farabi pernah menjadi murid Bisyr ibn Yunus, salah seorang penerjemah yang membantu Hunain ibn Ishaq di Bait al-Hikmah. Dari Bagdad kemudian ia pindah ke Aleppo dan tinggal di istana Saif Al-Daulah dari dinasti Hamdani yang berkuasa di Suria. Di istana inilah ia banyak mengembangkan pemikirannya, karena istana ini merupakan tempat berkumpulnya dan pertemuan para ilmuwan. Di kalangan filosof Muslim al-Farabi dikenal dengan julukan al-Mu’alim al-Tsani (Guru Kedua); sementara Guru Pertama (al-Mu’alim al-Awwal) adalah Aristoteles.

Mengenai hubungan filsafat dan agama, sebagaimana al-Kindi, al-Farabi juga berpendapat bahwa tidak ada pertentangn antara filsafat dengan agama. Tetapi dalam hal ini ia menekankan bahwa filsafat bisa mengganggu keyakinan orang awam. Untuk itu pemikiran yang bercorak filsafat harus dihindarkan dari orang-orang awam.

Tentang Metafisika. Di antara pemikiran filsafat al-Farabi yang berkaitan dengan masalah ketuhanan dan terjadinya alam terlihat dalam pemikirannya tentang filsafat emanasi’. Dalam filsafatnya ini al-Farabi sebagaimana halnya Plotinus 7
menerangkan bahwa ‘segala yang ada atau alam ini memancar dari Zat Tuhan melalui akal-akal yang berjumlah sepuluh’. Antara alam materi dengan Zat Tuhan terdapat pengantara. Tuhan berpikir tentang diriNya, dan dari pemikiran ini memancarlah Akal Pertama. Akal Pertama berpikir tentang Tuhan, dan dari pemikiran ini memancarlah Akal Kedua. Akal Kedua berpikir tentang Tuhan, dan dari pemikiran ini memancarlah Akal Ketiga. Demikian seterusnya sampai memancar Akal Kesepuluh.

Akal Pertama selanjutnya berpikir tentang dirinya, dan dari pemikiran ini timbullah langit pertama. Akal-akal lainnya juga berpikir tentang dirinya masing-masing, dan dari pemikiran itu timbullah planet-planet yang menghuni alam ini. Dengan demikian Tuhan Yang Maha Esa tidak mempunyai hubungan langsung dengan alam materi yang mengandung arti banyak ini. Demikian penjelasan Al-Farabi mengenai bagaimana yang banyak bisa muncul dari Yang Satu (Tuhan).

Tentang Jiwa. Jiwa manusia sebagaimana halnya dengan materi asal memancar dari Akal Kesepuluh. Jiwa itu menurutnya memiliki tiga daya, yaitu: (a) daya gerak (al-muharrakah/motion), yang memuat daya makan, memelihara, dan berkembang; (b) daya mengetahui (al-mudrikah/cognition), yang memuat daya merasa dan berimaginasi; dan (c) daya berpikir (al-natiqah/intellection), yang memuat akal praktis (practical intellect) dan akal teoritis (theoritical intellect).

Tentang Akal. Menurut Al-Farabi akal atau daya berpikir ini mempunyai tiga tingkat, yaitu: (a) al-‘aql al-hayulani (akal materil/akal potensial/material intellect); (b) al-‘aql bi al-fi’l (akal aktuil/actual intellect); dan (c) al-‘aql al-mustafad ( aquered intellect). Akal pada tingkat terakhir inilah yang dapat menerima pancaran yang dikirimkan dari Tuhan melalui akal-akal tersebut. Akal potensial menangkap bentuk-bentuk dari benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca indera; akal aktuil menangkap arti-arti dan konsep-konsep; dan akal mustafad mempunyai kesanggupan untuk mengadakan komunikasi dengan, atau menangkap inspirasi dari akal yang ada di atas dan di luar diri manusia, yaitu Akal Kesepuluh atau al-Aql al-fa’al (active intellect), yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk segala yang 

ada semenjak azal. Hubungan akal manusia dengan Akal Aktif sama dengan hubungan mata dengan matahari. Mata melihat karena ia menerima cahaya dari matahari. Akal manusia dapat menangkap arti-arti dan bentuk-bentuk karena mendapat cahaya dari Akal Aktif.

Tentang Filsafat Kenabian. Nabi atau Rasul dapat menerima wahyu, karena ia mempunyai kesanggupan untuk berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh. Akal Kesepuluh ini dapat disamakan dengan malaikat dalam pandangan Islam. Nabi atau Rasul adalah manusia pilihan, dan ia dapat berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh bukan atas usahanya sendiri, melainkan atas pemberian Tuhan. Para rasul diberi daya imajinasi yang begitu kuat oleh Tuhan, sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh tanpa latihan. Dengan imajinasi yang kuat, para Nabi dapat melepaskan diri dari pengaruh panca indera dan dari tuntutan jasmani. Sementara itu para filosof dapat berhubungan dengan Akal Kesepuluh adalah melalui akal mustafad dan itu dilakukan melalui latihan-latihan kontemplasi.


Karena baik para Nabi atau Rasul dan para filosof mendapat pengetahuan dari sumber yang sama, yaitu Akal Kesepuluh, maka wahyu yang diterima para Nabi atau Rasul dan pengetahuan filsafat yang diperoleh para filosof tidak bisa bertentangan. Mukjizat terjadi karena hubungan dengan Akal Kesepuluh dapat mewujudkan hal-hal yang bertentangan dengan kebiasaan. 

Subscribe to receive free email updates: