AL-Kindi

Al-Kindi (801-866M).

Nama Al-Kindi adalah nisbat pada suku yang menjadi asal-usulnya, yaitu Banu Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah yang sejak lama menempati daerah selatan Jazirah Arab. Nama lengkap Al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq Ash-Shabbah ibn ‘Imran ibn Ismail ibn Al-Asy’ats ibn Qays Al-Kindi. Ia dilahirkan di Kufah tahun 185H (801M). Ayahnya, Ishaq Ash-Shabbah, adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun al-Rasyid dari Bani Abbas. Ayahnya meninggal beberapa tahun setelah Al-Kindi lahir. Karena ia adalah satu-satunya filosof Muslim yang berasal dari keturunan Arab, Al-Kindi dikenal dengan sebutan Failasuf Al-‘Arab.

Nama Al-Kindi menanjak setelah hidup di istana pada masa pemerintahan Al-Mu’tashim yang menggantikan Al-Makmun pada tahun 218 H (833M), karena ia dipercaya untuk menjadi guru pribadi putera Al-Mu’tashim, yaitu Ahmad ibn Al-Mu’tashim. Pada masa inilah Al-Kindi berkesempatan menulis karya-karyanya, setelah pada masa Al-Makmun ia menterjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab. Sebagai seorang filosof yang mempelopori mempertemukan agama dan filsafat Yunani, Al-Kindi banyak mendapat tantangan dari para ahli agama. Ia dituduh meremehkan dan membodoh-bodohkan ulama yang tidak 

mengetahui filsafat Yunani. Banyak fitnah yang dituduhkan kepada Al-Kindi, terutama pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil. Akhirnya Al-Kindi menyingkir dari kemelut politik istana dan meninggal pada tahun 252 H (866M) (Azhar Basyir, 1993:80-81).

Karya ilmiah Al-Kindi kebanyakan berupa makalah. Ibn Nadim, dalam kitabnya Al-Fihrits, menyebutkan karyanya lebih dari 230 buah; sementara George N. Atiyeh menyebut ada 270 buah. Karya-karya Al-Kindi mengenai filsafat menunjukan ketelitian dan kecermatannya dalam memberikan batasan-batasan makna istilah-istilah yang dipergunakan dalam terminologi ilmu filsafat. Dari karangan-karangannya diketahui bahwa Al-Kindi adalah penganut aliran eklektisme, yaitu suatu faham pemikiran atau kepercayaan yang tidak mempergunakan atau mengikuti metode apapun yang ada, melainkan mengambil apa yang paling baik. Dalam metafisika dan kosmologi ia mengambil pendapat-pendapat Aristoteles; dalam psikologi ia mengambil pendapat Plato; dan dalam bidang etika ia mengambil pendapat Sokrates dan Plato. Meskipun demikian, kepribadian Al-Kindi sebagai seorang Muslim tetap tidak tergoyahkan.

Sebagai seorang pelopor yang dengan sadar berusaha mempertemukan antara agama dan filsafat, Al-Kindi berpendapat bahwa antara agama dan filsafat tidak ada pertentangan. Filsafat menurutnya adalah semulia-mulia ilmu dan Ilmu Tauhid atau teologi adalah sebagai cabang termulia dari filsafat. Filsafat sejalan dan dapat mengabdi kepada agama. Dengan demikian berfilsafat tidaklah berakibat mengaburkan dan mengorbankan keyakinan agama, seperti yang sering dituduhkan orang. Al-Kindi menegaskan bahwa filsafat yang paling tinggi tingkatannya adalah filsafat yang berupaya mengetahui kebenaran yang pertama, kausa dari semua kebenaran, yaitu filsafat pertama. Menurutnya kalau ada kebenaran-kebenaran atau hakekat-hakekat maka mesti ada kebenaran atau hakekat pertama (al-Haqq al-Awwal). Hakekat pertama itu adalah Tuhan.

Tentang Metafisika. Sebagaimana disebutkan di atas, Al-Kindi berpendapat bahwa filsafat yang tertinggi adalah Filsafat Pertama yang membicarakan tentang Causa Prima. Menurut Al-Kindi, Tuhan adalah Wujud Yang Haq (Sebenarnya) yang tidak pernah tiada sebelumnya dan tidak akan pernah tiada selama-lamanya, yang sejak awal dan akan senantiasa ada selama-lamanya. Tuhan adalah Wujud Sempurna yang tidak pernah didahului wujud yang lain, dan wujud-Nya tidak akan pernah berakhir serta tidak ada wujud lain melainkan dengan perantara-Nya. Dalam pandangannya ini Al-Kindi sejalan dengan pemikiran Aristoteles tentang Causa Prima dan Penggerak Pertama, penggerak yang tidak bergerak. Al-Kindi mengajukan pertanyaan yang juga dijawabnya sendiri: “Mungkinkah sesuatu menjadi sebab adanya sendiri, ataukah hal itu tidak mungkin?”. Jawabannya adalah: “Yang demikian itu tidak mungkin”. Dengan demikian, alam ini baru, ada permulaan dalam waktu; demikian pula alam ini ada akhirnya; oleh karena itu alam harus ada yang menciptakannya. Karena alam itu baru, maka alam adalah ciptaan yang mengharuskan ada penciptanya, yang mencipta dari tiada (creatio ex nihilo).

Tentang keberadaan Tuhan ini, Al-Kindi memperkuatnya dengan dalil keanekaan alam wujud dan dalil keteraturan alam wujud. Al-Kindi mengatakan bahwa tidak mungkin keanekaan alam wujud ini tanpa ada kesatuan, demikian pula sebaliknya tidak mungkin ada kesatuan tanpa keanekaan. Karena alam wujud ini semuanya mempunyai persamaan keanekaan dan kesatuan, maka sudah pasti hal itu terjadi karena ada Sebab; dan Sebab itu adalah berada di luar wujud itu sendiri, esksistentinya lebih tinggi, lebih mulia dan lebih dulu adanya. Sebab itu tidak lain adalah Tuhan. Ia juga mengatakan bahwa keteraturan alam inderawi ini tidak mungkin terjadi kecuali dengan adanya Zat yang tidak terlihat. Dan Zat yang tidak terlihat itu tidak mungkin diketahui adanya kecuali dengan adanya keteraturan dan bekas-bekas yang menunjukkan ada-Nya. Argumen yang demikian disebut dengan argumen teleologik.

Tentang Epistemologi. Al-Kindi menyebutkan adanya tiga macam pengetahuan manusia, yaitu: (a) pengetahuan inderawi, (b) pengetahuan rasional, dan (c) pengetahuan isyraqi (iluminatif)

Pertama, pengetahuan inderawi. Pengetahuan inderawi terjadi secara langsung ketika seseorang mengamati suatu obyek material. Pengetahuan model ini bersifat tidak tetap disebabkan obyek yang diamati pun tidak tetap, selalu dalam keadaan menjadi, berubah setiap saat. Pengetahuan inderawi ini tidak memberi gambaran tentang hakekat suatu realitas. Pengetahuan inderawi selalu bersifat parsial.

Kedua, pengetahuan rasional. Pengetahuan rasional merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal yang bersifat universal, tidak parsial, dan bersifat immaterial. Obyek pengetahuan rasional bukan individu, melainkan genus dan spesies. Apa yang diamati dari manusia bukanlah tinggi pendeknya, warna kulitnya, lesung pipitnya, dan seterusnya yang bersifat fisik; melainkan mengenai hakekatnya sehingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk berpikir (rational animal atau hayawan al-natiq).

Ketiga, pengetahuan isyraqi (iluminatif). Pengetahuan isyraqi (iluminatif) adalah pengetahuan yang langsung diperoleh dari pancaran Nur Ilahi. Puncak dan jalan ini adalah yang diperoleh para Nabi untuk membawakan ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu kepada umat manusia. Tuhan telah menyucikan jiwa mereka dan diterangkan-Nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu. Pengetahuan dengan jalan wahyu ini merupakan kekhususan bagi para Nabi. Akal meyakini kebenaran pengetahuan mereka berasal dari Tuhan, karena pengetahuan itu memang ada pada saat manusia biasa tidak mampu mengusahakannya. Menurutnya mungkin ada manusia selain nabi yang dapat memperoleh pengetahuan isyraqi, meskipun derajatnya di bawah para nabi. Hal ini akan terjadi pada orang-orang yang suci jiwanya.

Tentang Etika. Al-Kindi menyatakan bahwa keutamaan manusiawi tidak lain adalah “budi pekerti manusia yang terpuji”. Keutamaan ini ada tiga bagian. Pertama yang merupakan asas dalam jiwa, yaitu: hikmah (kebijaksanaan), najdah (keberanian), dan iffah (kesucian). Kebijaksanaan adalah keutamaan daya berpikir, yang bisa berupa kebijaksanan teortis dan praktis. Keberanian adalah keutamaan daya ghadabiyah (gairah), berupa keinginan untuk mencapai sesuatu sehingga 

tercapai. Kesucian adalah memperoleh sesuatu yang memang harus diperoleh guna mendidik dan memelihara badan serta menahan diri dari yang tidak diperlukan untuk itu. Kedua, adalah keutamaan-keutamaan manusia yang tidak terdapat dalam jiwa, tetapi merupakan hasil dan buah dari tiga macam keutamaan di atas. Dan Ketiga, hasil keadaan lurus tiga macam keutamaan itu tercermin dalam ‘keadilan’

Subscribe to receive free email updates: