Filsafat Islam

SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT
DALAM ISLAM



Kata filsafat berasal dari bahasa Arab falsafah, yang diturunkan dari bahasa Yunani philosophia. Dari sekian banyak batasan atau definisi tentang arti filsafat, menurut Ahmad Azhar Basyir (1993:17) agaknya dapat diterima secara umum batasan yang mengatakan bahwa filsafat adalah “pemikiran rasional, kritis, sistematis, dan radikal tentang suatu obyek”. Obyek pemikiran kefilsafatan adalah segala yang ada, yaitu Tuhan, manusia dan alam. Jika yang menjadi obyek pemikiran itu adalah Tuhan, maka lahirlah filsafat ketuhanan; jika yang menjadi obyek adalah tentang manusia, maka lahirlah filsafat manusia; begitu juga jika yang menjadi obyek adalah alam, maka lahirlah filsafat kealaman. Pendeknya adalah apabila terjadi suatu pemikiran secara rasional, kritis, sistematis dan radikal terhadap suatu obyek tertentu maka pekerjaan tersebut dapat dikatakan sebagai berpikir filosofis atau bercorak kefilsafatan. Dari batasan filsafat di atas, hal yang paling mendasar adalah adanya pemikiran yang bersifat rasional. Rasionalitas rupanya menjadi prasyarat pokok bagi lahirnya pemikiran yang bercorak kefilsafatan.

Menurut Harun Nasution (1979:46) pemikiran filosofis masuk ke dalam dunia Islam melalui filsafat Yunani yang dijumpai oleh para pemikir Muslim di Suria, Mesopotamia, Persia dan Mesir. Kebudayaan dan falsafah Yunani datang ke daerah-daerah itu dikarenakan adanya ekspansi Alexander Yang Agung ke Timur di abad ke-4 sebelum masehi. Politik Alexander untuk menyatukan kebudayaan Yunani dan kebudayaan Persia meninggalkan warisan di daerah-daerah yang dikuasainya. Hasilnya adalah munculnya pusat-pusat kebudayaan Yunani di Timur.
Pemikiran filosofis ini mulai nampak jelas kelihatan terutama pada masa pemerintahan Abbasiyah. Ketertarikan terhadap pemikirn Yunani berawal dari keinginan umat Islam pada masa itu untuk mempelajari ilmu kedokteran atau ilmu pengobatan model Yunani, dari perjumpaan itu kemudian berlanjut kepada ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, termasuk 

filsafat. Perhatian kepada filsafat meningkat pada masa pemerintahan Khalifah al-Makmun (813-833M), putera Harun al-Rasyid. Pada masanya banyak ilmuwan yang dikirim ke Kerajaan Bizantium untuk mencari manuskrip yang kemudian dibawa ke Bagdad untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Untuk keperluan penerjemahan, al-Makmun mendirikan Bait al-Hikmah di Bagdad. Lembaga ini dipimpin oleh seorng Kristen dari Hirah yang bernama Hunain ibn Ishaq. Ia pernah ke Yunani dan berlajar bahasa Yunani. Selain menguasai bahasa Arab dan Yunani, Hunain juga menguasai bahasa Siriak (Siryani), yang di jaman itu merupakan salah satu bahasa ilmiah. Karya-karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab adalah karangan Aristoteles, Plato, dan buku-buku mengenai Neo-Platonisme.

Subscribe to receive free email updates: