Ibn Miskawaih

Ibn Miskawaih (932-1030M)

Abu ‘Ali al-Khazim Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’qub Miskawaih lahir di Raiy (Teheran) dan meninggal di Isfahan pada tahun 1030 M. Pada masa mudanya bekerja sebagai pustakawan dari beberapa menteri, di antaranya Ibn al-Amid, di Raiy. Dalam pemikiran filsafatnya lebih banyak dikenal di bidang filsafat akhlaq. Buku yang terkenal di bidang ini adalah Tahzib al-Akhlaq.

Menurutnya kata akhlaq adalah bentuk jamak (plural) dari kata khuluq. Pengertian khuluq menurutnya adalah ‘peri keadaan yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya’

Dengan kata lain, khuluq adalah sikap mental atau jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan tanpa pemikiran sebelumnya atau secara spontan. Sikap mental atau keadaan jiwa ini dapat merupakan fitrah sejak lahir, dan dapat pula merupakan hasil latihan pembiasaan (ikhtiari).

Tentang Jiwa. Dalam kaitannya dengan jiwa, Miskawaih menyebutkan adanya tiga macam kekuatan jiwa, yaitu: (a) bahimiyah atau syahwiyah (kebinatangan atau nafsu syahwat), jiwa atau sikap mental yang senantiasa mengejar kelezatan jasmani; (b) sabu’iyah (binatang buas), jiwa atau sikap mental yang senantiasa bertumpu pada kemarahan dan keberanian; dan (c) nathiqah (berpikir), jiwa atau sikap mental yang selalu berpikir tentang hakekat segala sesuatu. Apabila terjadi keselarasan dalam perimbangan di antara ketiganya, maka tercapailah keutamaan dan kebajikan pada manusia.

Keutamaan-keutamaan yang lahir kemudian sebagai hasil keselarasan tiga jiwa di atas adalah: (a) hikmah, atau kebijaksanaan adalah keutamaan jiwa cerdas; (b) iffah, atau kesucian adalah keutamaan nafsu syahwat, dan ini dapat tercapai apabila manusia dapat menyalurkan syahwatnya sejalan dengan pertimbangan akal yang sehat, sehingga terbebas dari perbudakan syahwatnya; (c) syaja’ah, atau keberanian adalah keutamaan jiwa ghadabiyah (sabu’iyah), dan ini dapat tercapai apabila manusia dapat menundukkannya kepada jiwa nathiqah, dan menggunakannya sesuai dengan tuntutan akal sehat dalam menghadapi berbagai persoalan; dan (d) adalah, atau keadilan adalah keutamaan jiwa yang terjadi dari kumpulan ketiga keutamaan di atas di saat terjadi keselarasan antara keutamaan-keutamaan itu dan tunduk kepada kekuataan sehat, sehingga bisa berlaku adil kepada dirinya sendiri juga kepada orang lain.

Tentang Kebahagiaan. Ibnu Miskawaih membedakan antara al-khair (kebaikan) dan al-sa’adah (kebahagiaan). Kebaikan memiliki corak umum dan menjadi tujuan semua orang; kebaikan umum bagi seluruh manusia dalam kedudukannya sebagai manusia. Sedang kebahagiaan adalah kebaikan bagi seseorang, tidak bersifat umum tetapi relatif bergantung kepada orang per-orang.
Kebahagiaan tertinggi menurutnya adalah kebijaksaan yang menghimpun dua aspek, yaitu hikmah yang bersifat teoritis dan hikmah yang praktis. Hikmah yang bersifat teoritis adalah bersumber dari pengetahuan yang benar, sedangkan hikmah yang praktis adalah keutamaan jiwa yang mampu melahirkan budi pekerti yang mulia. Kebahagiaan yang diperoleh melalui kesenangan jasmani adalah kebahagiaan yang palsu yang pada umumnya dicari oleh orang awam.

Orang yang mencapai kebahagiaan tertinggi jiwanya akan tenang, merasa selalu berdampingan dengan malaikat. Jiwanya diterangi Nur Ilahi dan merasakan nikmat di dalamnya. Baginya tidak akan menjadi masalah apakah dunia datang kepadanya atau meninggalkannya; dan tidak merasa sedih bila berpisah dengan orang yang dicintainya. Akan dilakukannya segala sesuatu yang menjadi kehendak Allah; akan dipilihnya hal-hal yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah; tidak akan berkhianat kepada dirinya juga kepada Allah.

Tentang Cinta. Menurut Ibn Miskawaih ada dua jenis cinta, yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia, terutama cinta seorang murid kepada gurunya. Cinta yang tinggi nilainya adalah cinta kepada Allah. Tetapi tipe cinta ini hanya dapat dicapai oleh sedikit orang. Cinta kepada sesama manusia adalah kesamaan antara cinta anak kepada orang tua dan cinta murid kepada gurunya. Menurut Ibn Miskawaih cinta murid kepada gurunya dipandang lebih mulia dan lebih berperanan. Guru adalah bapak ruhani bagi murid-muridnya. Gurulah yang mendidik murid-muridnya untuk dapat memiliki keutamaan yang sempurna. Kemuliaan guru terhadap murid laksana kemuliaan ruhani terhadap jasmani.

Tentang Pendidikan Anak. Menurut Ibn Miskawaih kehidupan utama pada anak-anak memerlukan dua syarat, yaitu syarat kejiwaan dan syarat sosial. Syarat kejiwaan tersimpul dalam menumbuhkan watak cinta kepada kebaikan, yang dapat dilakukan dengan mudah pada anak-anak yang berbakat baik, dan dapat dilatih dengan membiasakan diri pada anak-anak yang tidak berbakat untuk cenderung kepada kebaikan. Syarat kedua, syarat sosial, dapat dicapai dengan cara memilihkan teman-teman yang baik, menjauhkan dari pergaulan dari teman-temannya yang berperangai buruk.


Nilai-nilai keutamaan pada anak-anak yang harus menjadi perhatian juga adalah mencakup aspek jasmani dan ruhani. Keutamaan jasmani antara lain berkaitan dengan makanan dan kegiatan-kegiatan fisik. Makanan hendaknya untuk tujuan kesehatan dan bukan kenikmatan. Kegiatan-kegiatan fisik diarahkan ke arah yang bisa mendorong dan selaras dengan kesehatan jiwa. Sedangkan keutamaan ruhani antara lain dengan membiasakan anak bersikap cinta kepada sesama, jujur, berkata-kata yang baik, percaya diri dan seterusnya. Dengan demikian anak-anak akan terbiasa dengan kebaikan-kebaikan dan terhindar dari kebiasaan yang buruk.

Subscribe to receive free email updates: