Ibn Sina

 Ibn Sina (980-1037 M).

Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu ‘Ali Husein ibn Abdillah Ibn Sina. Popularitas yang diperoleh Ibn Sina melampaui poluplaritas al-Kindi dan al-Farabi. Ia lahir di Afshana, suatu wilayah dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Samani. Ibn Sina dikenal di Barat dengan nama atau sebutan Avicenna, dan lebih dikenal dalam bidang pengobatan dari pada sebagai filosof. Dalam bidang ini karyanya yang terkenal adalah al-Qanun fi al-Tibb dan al-Syifa. Untuk bidang ini Ibn Sina mendapat gelar the Prince of the PhysiciansSementara di dunia Islam ia dikenal dengan sebutan al-Syaikh al-Rais (Pemimpin Utama dari para Filosof).

Tentang Metafisika. Dalam pemikiran filsafatnya mengenai Tuhan dan kejadian alam, Ibn Sina juga mempunyai ‘faham emanasi. Dari Tuhan memancar Akal Pertama, dan dari Akal Pertama memancar Akal Kedua, demikian seterusnya sampai Akal Kesepuluh. Menurut Ibn Sina akal-akal itu adalah malaikat, dan Akal Pertama adalah malaikat tertinggi, kemudian Akal Kesepuluh, yang mengatur bumi, adalah Jibril.

Menurut Ibn Sina, Akal Pertama mempunyai dua sifat, yaitu (a) sifat wajib wujudnya, karena ia sebagai pancaran Tuhan; dan (b) sifat mungkin wujudnya, apabila dilihat dari hakekat dirinya, karena ia sebagai hasil dari sesuatu yang lain. Dengan demikian Akal Pertama mempunyai tiga obyek pemikiran, yaitu: Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya, dan dirinya sebagai mungkin wujudnya. Dari pemikiran tentang Tuhan munculah akal-akal; dari pemikiran tentang dirinya yang wajib wujudnya munculah jiwa-jiwa; dan dari pemikiran tentang dirinya yang mungkin wujudnya munculah langit-langit (planet).

Tentang Jiwa. Jiwa manusia yang memancar dari Akal Kesepuluh menurut Ibn Sina dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (a) Jiwa Tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah), yang di dalamnya memuat daya makan, daya tumbuh, dan daya berkembang biak; (b) Jiwa Binatang (al-nafs al-hayawaniyah), yang di dalamnya memuat daya gerak dan daya menangkap (meliputi menangkap dari luar dan menangkap dari dalam –indera bersama, representasi, imajinasi, estimasi, dan rekoleksi); dan (c) Jiwa Manusia (al-nafs al-Nathiqah), yang di dalamnya memuat daya praktis dan daya teoritis.

Daya praktis menurut Ibn Sina mempunyai kedudukan penting, karena ia akan mengontrol badan manusia, sehingga hawa nafsu yang terdapat dalam badan tidak menghalangi berkembangnya daya teoritis. Sementara daya teoritis mempunyai empat tingkatan, yaitu: (a) Akal Materil (material intellec/al-aql al-hayulani), yang semata-mata mempunyai potensi untuk berpikir; (b) intellectus in habitu (al-aql bi al-malakah), yang telah mulai dilatih untuk berpikir tentang hal-hal abstrak; (c) Akal Aktuil (al-aql bi al-fi’l), yang telah dapat berpikir tentang

hal-hal abstrak; dan (d) Akal Mustafad (al-aql al-mustafad), yang telah sanggup berpikir tentang hal-hal abstrak dengan tidak perlu daya upaya, sudah terlatih begitu rupa. Akal inilah yang sanggup menerima ilmu pengetahuan dari Akal Kesepuluh.

Tentang Filsafat Kenabian. Di antara manusia ada yang dianugerahi akal materil (al-aql al-hayulani) yang begitu besar dan kuat, yang oleh Ibn Sina diberi nama al-hads atau intuisi. Orang yang dianugerahi akal yang demikian, dengan tanpa melalui latihan, dengan mudah dapat berhubungan dengan Akal Kesepuluh. Oleh karena itu, orang tersebut dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal serupa ini mempunyai daya suci (quwwah qudsiyyah). Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diproleh manusia, dan terdapat hanya pada para nabi

Subscribe to receive free email updates: