Maha suci Allah yang telah memberikan karunia berupa nikmat yang tanpa kita sadari

Nikmat sehat merupakan salah satu nikmat terbesar yang dikaruniakan oleh Allah Ta’ala kepada manusia. Dengan nikmat ini, yang termasuk di dalamnya nikmat hidup, manusia dapat melakukan berbagai aktifitas dengan nyaman mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur bahkan selama tidur itu sendiri. Seorang ayah dapat bekerja menafkahi keluarganya karena badannya kuat, seorang ibu dapat memasak untuk keluarganya karena tidak mengalami nyeri haid, seorang anak dapat belajar dengan rajin karena tidak mengalami demam, dan lainnya merupakan beberapa contoh dari manfaat dari nikmat sehat yang dikaruniakan kepada kita secara cuma-cuma oleh Allah Ta’ala. Maka sudah selayaknya kita bersyukur/berterima kasih kepada Allah Ta’ala atas karunia-Nya tersebut juga karunia-Nya yang lain, sebagaimana yang diperintahkan Allah Ta’ala kepada kita dalam firman-Nya,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ 

“Maka ingatlah kepada-Ku (Allah), niscaya Aku akan ingat kepadamu, bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku “. ( Qs. Al Baqarah : 152)


Permasalahan 

Namun ternyata, sebagian besar manusia tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Mereka lalai, zalim bahkan melakukan apa yang dilarang oleh Allah Ta’ala, yakni mengingkari berbagai nikmat, termasuk nikmat sehat, yang dikaruniakan oleh-Nya. Hanya sebagian kecil saja dari manusia yang mau dan mampu untuk mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah karuniakan kepadanya. Allah Ta’ala mengabarkannya kepada kita dalam firman-Nya,


وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS: Ibrahim Ayat: 34)

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali golongan hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’ : 13)


Juga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hal tersebut dalam sabda beliau,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغِ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi n bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR Bukhari, no. 5933)


Maksud dari tertipu dalam hadist tersebut adalah melalaikan/meninggalkan untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala terhadap nikmat yang telah Dia berikan kepada manusia. (Fathul Bari).
Bersyukur kepada Allah Ta’ala merupakan kebaikan / amal sholeh sedangkan lalai dalam bersyukur kepada Allah dan mengingkari nikmat Allah merupakan kejahatan / amal buruk dan masing-masing darinya akan mendapatkan balasan dari Allah. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ - وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ 

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 7-8)


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, "Sesungguh¬nya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)


Azab dalam ayat tersebut diantaranya adalah dicabutnya nikmat-nikmat itu dari mereka, dan Allah menyiksa mereka karena mengingkarinya. Juga terhalang rejekinya karena dosa yang dikerjakannya yakni lalai dan ingkar akan nikmat yang Allah karuniakan. (Tafsir Ibnu katsir)

Bagaimana bersyukur kepada Allah 

Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh menerangkan bahwa di dalam mensyukuri nikmat; memiliki 3 rukun yang harus ditegakkan: "Semua kenikmatan Allah memiliki arti yang sama: maka pengikatnya ialah rasa syukur, yang dibangun di atas 3 rukun: mengakuinya di dalam batin, menampakkannya secara nyata, dan menggunakannya di jalan keridhoan penolongnya dan pembimbingnya serta pemberinya yakni Allah Ta’ala. Dan apabila dia telah melakukan hal tersebut berarti dia telah mensyukurinya (walau) dengan rasa syukur yang terbatas". (al-Wabilus Shoyyib)


Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun memberikan nasehat kepada kita tentang cara menumbuhkan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dalam sabda beliau,

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu. (HR. Bukhari no. 6490)

Kisah

Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang ‘alim. Maka orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?” Dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?” Dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?” Dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?” Dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu (Allah Azza wa Jalla) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu?” (Mukhtashar Minhajul Qashidin)


Tindak lanjut
Setelah membaca tulisan dalam lembar ini, kita dapat melakukan hal-hal berikut ini, in shaa Allah:

1. Memahami lebih lanjut tentang syukur kepada Allah Ta’ala dengan bertanya kepada orang yang lebih ‘alim dari kita dan atau mempelajari al Quran, kitab hadist, dan kitab-kitab para ulama ahlus sunnah wal jama’ah

2. Berusaha untuk selalu mensyukuri berbagai nikmat, khususnya nikmat sehat yang telah dikaruniakan oleh Allah Ta’ala kepada kita

3. Bersyukur dengan pikiran yakni mengetahui bahwa sesuatu itu (contohnya, kesehatan) adalah suatu nikmat yang berasal dari Allah Ta’ala serta merenungkannya. 

4. Bersyukur dengan hati yakni mengakui dan menyadari serta menerima bahwa berbagai nikmat yang dirasakannya, termasuk nikmat sehat, adalah nikmat dari Allah Ta’ala yang dikaruniakan kepada kita dan merasa cukup dengan nikmat tesebut. 

5. Bersyukur dengan lisan yakni berdzikir dan memuji Allah serta menyebut-nyebut berbagai nikmat, termasuk nikmat sehat, yang dikaruniakan oleh Allah tanpa diiringi kesombongan dan kekaguman pada diri sendiri. Juga mengucapkan terima kasih kepada manusia yang menjadi sebab datangnya nikmat yang kita rasakan. 

6. Bersyukur dengan perbuatan yakni diantaranya lebih giat dalam menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan sekitar; mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan bergizi tinggi, meninggalkan perilaku hidup yang tidak sehat, dan menggunakan kesehatan diri kita untuk lebih giat dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. 

7. Melakukan sujud syukur ketika mendapatkan nikmat yang besar, seperti sembuh dari penyakit yang berat/kronis.

Catatan : hikmah dibalik semuanya adalah mensyukuri atas karunia Allah SWT yang kita dapatkan baik yang tidak terlihat maupun terlihat, sebab Allah SWT maha pengasih maha pemurah maha dari segala maha pencipta alam. semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua AMIN.

Subscribe to receive free email updates: