Mustofa W Hasyim Mustofa W Hasyim lahir di Yogyakarta, 17 Nopember 1954


Mata Rantai Cinta yang Buntu

Truk angine mati, Kang Gareng uripno
Truk angine mati, Kang Gareng uripno

Orang Yogya mencintai Yogya
Yogya mencintai Jakarta
Jakarta mencintai Washington
Washington mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Rakyat mencintai pemimpin
Pemimpin mencintai isterinya
Isterinya mencintai rekening bank
Rekening bank mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Buruh mencintai mandor
Mandor mencintai juragan
Juragan mencintai juragan besar
Juragan besar mencintai saham
Saham mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Pedagang mencintai pasar
Pasar mencintai mantri pasar
Mantri pasar mencintai Dinas pasar
Dinas pasar mencintai kantor perdagangan
Kantor perdagangan mencintai menteri perdagangan
Menteri perdagangan mencintai impor
Impor mencintai komisi
Komisi mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Petani mencintai benih, pupuk dan racun hama
Benih, pupuk dan racun hama mencintai pedagang
Pedagang benih, pupuk dan racun hama mencintai pabrik
Pabrik mencintai direkturnya
Direktur mencintai sekretarisnya
Sekretaris mencintai atm
Atm mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Cem cempe cem cempe undangna barat gedhe
Tak upahi duduh tape
Cem cempe cem cempe undangna barat dawa
Tak upahi banyu klapa

Aku Mencari Pahlawan

Dengarlah dengar nyanyian mulia
bagimu pahlawan kusuma bangsa
Dengarlah dengar nyanyian mulia
seluruh negara memuji dikau

Dengar derap langkah pahlawan
Menuju medan perang
Memanggil setiap putera
Ikut bela bangsa

Dengarlah dengar nyanyian mulia
Bagimu pahlawan kusuma bangsa

Aku mencari pahlawan di gedung-gedung parlemen, tidak ada
Aku mencari pahlawan di kantor-kantor pemerintah, tidak ada
Aku mencari pahlawan di pengadilan-pengadilan, tidak ada
Aku mencari pahlawan di makam pahlawan, tampak ada
tapi ketika mata kupejamkan hanya satu dua cahaya

Aku mencari pahlawan di bank-bank, tidak ada
Aku mencari pahlawan di mall-mall, tidak ada
Aku mencari pahlawan di jalan-jalan tol, tidak ada
Aku mencari di hotel-hotel, tidak ada

Aku mencari pahlawan di hutan-hutan, tidak ada
Aku mencari pahlawan di pertambangan, tidak ada
Aku mencari pahlawan di halaman koran, di halaman majalah, di layar
televisi dan di radio-radio, tidak ada
Aku mencari pahlawan di baliho-baliho, tidak ada

Lantas di manakah pahlawan-pahlawan itu?
Aku mencoba pulang, lewat selokan kering, pinggir sungai sampah. Lho
kok ada pahlawan di sini?
Aku berjalan di pasar-pasar kuno yang kelelahan, ada pahlawan juga
di sini. Aku lewat sawah yang petaninya dipukul pingsan oleh impor
kentang, impor wortel, impor kedele, impor jagung, impor brambang
bawang, di sini juga banyak pahlawan tergeletak mereka.

Terus aku berjalan lewat pantai, tambak garam yang dihancurkan oleh
impor garam dari Menteri Perdagangan, banyak pahlawan kelaparan
di sini.
Lalu, di tengah terik matahari membakar jiwa, aku mampir ke Pasar
Klitikan. Ternyata para pahlawan berkumpul di sini,
mereka sedang menjual berbagai barang loak medali, tanda jasa dari
logam, piagam, buku memoar, seragam perjuangan dulu.
“Mengapa dijuali Pak, bukankah ini penanda kalau sampeyan ini pahlawan
negeri ini?” tanyaku
Mereka tertawa lirih. “Semua ini tidak ada gunanya Nak. Maka kami jual.
Yang penting, kami tidak menjual hati dan jiwa kami kepada bangsa
asing,” jawabnya.
Lalu ada pahlawan memakai kaos oblong, dia nyeletuk,
“Mas, mas, sampeyan iki kurang gawean.
Wong nggoleki awakmu dhewe we ora iso
Kok ndadak nggoleki pahlawan bareng.”

Betul kata dia, mencari diri sendiri saja belum ketemu
Kok mau maunya mencari pahlawan segala.

Yogyakarta, 2011


Bangsa yang Suka Libur

Cing cong cicuhung cing cong cicuhung
Kowe bocah kuncung
Wis awan isih njingkrung
Cing cong cicuhung cing cong cicuhung
Kowe bocah kuncung
Wis awan isih kemul sarung
…         Prei pak, prei, sekolahe prei, kantore ya prei…

Bangsa yang suka libur dan tidak suka kerja
Bangsa yagng suka belanja dan tidak suka berproduksi
Bangsa yang suka menggunjing dan tidak suka membaca
Bangsa yang suka berhutang dan tidak suka menabung
Bangsa yang suka jalan pintas dan tidak suka proses yang wajar
Bangsa yang suka maksiat dan tidak suka menghitung kualitas diri
Bangsa yang malas dan tidak suka berjuang
Bangsa yang suka tawuran dan tidak suka bersatu
Itu adalah
bangsa t alias bangsat.

Bangsa yang dulu pemberani kini memilih penakut
Bangsa yang dulu penjelajah kini memilih dijajah
Bangsa yang dulu suka membagi ilmu kini suka menyontek kebodohan
bangsa lain.
Bangsa yang dulu dihormati kini memilih mengemis pujian
Bangsa yang dulu berjiwa besar kini memilih kerdil
Bangsa yang dulu mampu menaklukan masa depan dan kini memilih
kalah terhadap masa lalu, kalah terhadap hari ini dan kalah terhadap masa
depan
Itu adalah bangsa t t t alias bangsat bangets

Cing cong cicuhung cing cong cicuhung
Kowe bocah kuncung
Wis awan isih kemul sarung
…         Prei pak, prei, sekolahe prei, kantore ya prei…



Subscribe to receive free email updates: