WARGA TERANCAM KELAPARAN PASCA MELETUSNYA GUNUNG SINABUNG !! YA ALLAH BAGIKAN INFO INI AGAR MENTRI SOSIAL MENGETAHUINYA

Meletusnya Gunung Sinabung menjadi catatan sejarah baru di Indonesia, sebab Sinabung meletus setelah ratusan tahun “tertidur”, dan kini durasi letusannya menjadi gunung dengan letusan terlama di Indonesia, bahkan dunia!

Sampai dengan hari ini, gunung Sinabung masih dalam status erupsi. Entah sampai kapan aktivitas vulkanik di Sinabung mereda. Imbas dari kondisi gejolak erupsi Gunung Sinabung sampai detik ini, ribuan pengungsi tak ada pilihan lain selain bertahan di tenda-tenda pengungsian. Bayangkan saja, sudah lebih dari 1000 hari atau lebih dari 3 tahun lamanya mereka bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Laporan terbaru dari pengungsian Sinabung, kini ribuan pengungsui sedang mengalami klimaks dari penderitaan mereka hidup sebagai pengungsian. Melansir dari informasi yang dirilis oleh ACTNews, saat ini sejumlah 9.000 jiwa pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung di 9 titik pengungsian, terancam kelaparan akibat suplai bahan makanan yang jauh di bawah kebutuhan warga.
Sebetulnya ada bantuan dari pemerintah yang datang rutin menyuplai bantuan makanan. Namun bantuan makanan yang diberikan pemerintah dalam bentuk bahan mentah yakni raskin dan sembako mentah. Pengungsi masih harus mengolahnya dengan menggunakan kayu bakar, padahal kayu bakar masih harus dicari, kayunya dicari di perkebunan atau hutan-hutan terdekat.
Mencari solusi dari kasus pengungsi Sinabung yang terancam kelaparan, Dapur Sosial (Dapsos), divisi pengadaan dapur umum Aksi Cepat Tanggap (ACT), membagikan paket makanan siap santap untuk pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung.
Dapur sosial ACT adalah gerakan sosial yang mengajak masyarakat umum untuk membantu pengungsi Sinabung dengan menyediakan makanan siap santap. Kondisi hari ini di tenda-tenda pengungsian Sinabung menunjukkan bahwa suplai makanan untuk pengungsi merosot tajam dalam sebulan terakhir, jauh di bawah kebutuhan pengungsi. Di khawatirkan, pengungsi mengalami kelaparan berlarut.
Bersama aktivis Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kabupaten Tana Karo,  Dapsos – ACT selama dua hari berturut-turut dari Sabtu-Minggu, 5-6 Maret 2016, mendistribusikan makanan siap santap di dua titik pengungsian.
Posko pertama yaitu Posko Gereja Pantekosta (GPDI), di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat dengan 160 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 561 orang pengungsi. Posko kedua di Gudang Jeruk Surbakti, Kecamatan Simpang Empat, dengan penerima manfaat 190 KK dengan 671 jiwa pengungsi. 

Subscribe to receive free email updates: