WANITA INSPIRATIF "Emine Erdogan; Bukan Ibu Negara Biasa"

EMINE Erdogan, seorang ibu negara yang terlahir dengan nama Emine Gülbaran pada tanggal 21 Februari 1955. Istri dari Perdana Menteri Turki yang kedua puluh lima, Recep Tayyip Erdogan.
Emine Erdogan lahir di Siirt, dan dibesarkan di Üsküdar, Istanbul. Dia adalah keturunan Arab dan anak bungsu dari lima bersaudara. Emine sempat mengenyam pendidikan di Mithat Pasa Aksam Art School, tetapi keluar sebelum lulus.
Setelah itu, ia pun bergabung dengan “Asosiasi Idealis Perempuan” dan karena kegiatan ini ia bertemu dengan Recep Tayyip Erdogan pada konferensi. Recep dan Emine menikah pada tanggal 4 Juli 1978. Pasangan ini memiliki empat anak diantaranya Ahmet Burak Erdoğan, Necmettin Bilal, Sümeyye dan Esra.
Penghargaan-penghargaan
Emine bukanlah ibu negara biasa, tidak seperti yang lainnya selain tidak pernah lepas memakai jilbab. Ia juga dikenal ramah dan sangat peduli terhadap perempuan di dunia dan tak aneh jika beberapa kali mendapatkan penghargaan. Salah satunya, penghargaan Hilal-e-Pakistan.
Pada tanggal 7 Desember 2010, Perdana Menteri Syed Yusuf Raza Gilani menganugerahkan Pakistan State Decorationkepada Emine Erdogan, sebagai pengakuan atas usaha pribadinya membantu orang-orang yang dilanda banjir di Pakistan. Pada bulan Oktober 2010, Emine secara pribadi mengunjungi Pakistan yang tengah dilanda banjir, dan ia menyaksikan secara jelas kehancuran yang disebabkan oleh banjir. Tidak hanya itu, ia juga memberikan kontribusi signifikan dalam kampanye penggalangan dana untuk membantu korban banjir di negara itu.
Pada tanggal 16 Februari 2011, Emine Erdogan mendapat penghargaan “Prix de la Fondation” oleh Montana Forum Crans pada upacara di Brussels.
“Kita semua sepakat bahwa perempuan di dunia layak mendapatkan kesempatan sosial dan politik sepenuhnya. Hak perempuan dalam sebuah wilayah tidak boleh dikorbankan untuk keseimbangan kekuatan dan keamanan dari beberapa rezim. Kita telah melihat banyak perempuan yang jatuh miskin setelah bencana alam di Pakistan, yang menderita kemiskinan di Bangladesh, yang kehilangan anak-anak mereka, suami, harapan atau masa depan di Palestina, Irak, Bosnia atau di Darfur. Kita telah melihat banyak perempuan yang dilecehkan baik di Barat maupun di Timur. Mereka semua memiliki satu kesamaan sebagai manusia dan seorang wanita. Oleh karena itu, saya percaya bahwa perjuangan kita untuk mewujudkan perdamaian, demokrasi dan kebebasan harus tetap dilanjutkan dengan tekad yang besar. Saya ingin mengulangi sekali lagi bahwa kita menolak diskriminasi dalam perjuangan ini,” tutur Emine setelah menerima penghargaan dari pendiri sekaligus ketua Montana Forum Crans.
Baru-baru ini, Emine Erdogan yang mendampingi suaminya pada kunjungan resminya ke Amerika Serikat, menerima sambutan hangat di Georgetown University, Washington.
Fathali M. Moghaddam, seorang profesor dari Iran di Georgetown, memberikan salah satu bukunya, “The Psychology of Dictatorship” kepada Emine.
Disana ia ikut berpartisipasi dalam pertemuan tentang “Peran perempuan dalam membangun perdamaian dan pembangunan,” Emine berpidato menyerukan solidaritas untuk memecahkan masalah di negara-negara tetangga Turki. Menggarisbawahi pentingnya pemberdayaan perempuan, dia berkata, “Tidak ada yang bisa memecahkan masalah perempuan, kecuali perempuan itu sendiri.” 

Subscribe to receive free email updates: