ASTAGHFIRULLAH !!!, SEKELUARGA JADI P3L4CUR


Ada pepatah mengatakan

SAPA NANDUR BAKAL NGUNDUH

secara harfiah kalimat tersebut berarti

SIAPA YANG MENANAM, DIALAH YANG BERHAK MEMETIK HASILNYA.

Maknanya, setiap orang akan merasakan akibat dari perbuatannya sendiri, bagaikan memetik buah dari tumbuhan yang ditanamnya. Sementara buah yang dihasilkan, baik atau buruk, tergantung biji yang dia tanam. Orang akan merasakan hasil dari perbuatannya sendiri, tergantung dari perbuatannya. Sementara MENSIUS mengatakan pada Raja Zou Mu Gong (475 SM-221 SM) “Chu er fan er” artinya ” 
SESEORANG AKAN MENUAI DARI YANG DILAKUKANNYA.”



Aku tidak mendramatisasi hidupku hidup yang berawan gelap selalu ketika usiaku 10 tahun aku hanya mengenal ibuku Ayah? Oh sosok yang tidak pernah kupanggil dalam hidupku entahlah apa aku lahir dengan seorang ayah?



Menurut tetangga-tetanggaku ibuku bukan perempuan baik-baik hidupnya berpindah dari pelukan lelaki satu ke lelaki yang lain kasak-kusuk itu tak pernah kumengerti Apapun yang dilakukan, ia tetap ibuku yang mengasihiku yang menyayangiku yang memelukku jika tidur aku wajib menghormatinya.



Ketika usiaku 11 tahun pandanganku tentang sosok ibu berubah ia bukan sosok yang harus dihormati ibuku pergi tanpa sepatah kata pun aku merasa sangat kehilangan aku merasa sedih aku merasa dikhianati tiap malam aku menangis tanpa mengerti airmata ini selalu meleleh membasahi pipi saat malam tidur dalam dingin pelukan seorang ibu telah lenyap dalam hidupku.



Masih beruntung aku punya kakak perempuan satu-satunya hanya kepada dia kulabuhkan kangenku pada ibu mbakku ini penuh pengertian tampaknya memahami kesepianku namun ia hanya bisa menemaniku beberapa jam saja setiap hari ia harus bekerja, supaya kami tidak kelaparan aku tidak tahu ia bekerja sebagai apa dan di mana? Yang aku tahu, mbakku ini banyak teman setiap pulang pasti ada yang mengantar semuanya laki-laki setiap hari berganti-ganti aku senang saja, karena selalu ada oleh-oleh untukku.



Saat usiaku menginjak 16 tahun semua tampak kian jelas mbakku ternyata bekerja sebagai wanita panggilan aku sedih aku selalu merenung tapi aku tidak bisa berkata apa-apa.

Aku semakin cantik teman-teman pria mbakku selalu mengajakku bercanda semakin hari semakin berani mbakku melihat situasi yang memungkinkan mengantarku ke dalam dunianya dunia yang akhirnya kunikmati bersama mbakku satu-satunya menjelajahi dunia kelam hidung belang akhirnya aku bisa mengurus diriku sendiri.



Apakah ini warisan dari ibuku? Aku semakin pintar memikat lelaki keterampilan dalam menyenang-nyenangkan kaum pria

entah.

Pada suatu hari Mbakku marah-marah ketika aku memberitahu bahwa aku hamil ia membujukku untuk menggugurkan tapi aku menolakknya tidak, aku ingin mempunyai anak aku ingin punya bayi aku ingin momong bayi aku ingin melabuhkan kasih sayang sejati pada darah dagingku sendiri bukan pada lelaki-lelaki tidak tahu diri

“Siapa bapaknya?” tanya mbakku keras.

“Aku tak tahu, aku tak butuh suami!” jawabku tegas.

“Siapa nanti yang memberi makan?” tanyanya lagi.

“Aku bisa cari makan sendiri!” kataku sengit.



Anakku lahir perempuan cantik, tentu saja setelah dalam pelukan dua bulan bayiku kutitipkan tetangga, karena aku akan bekerja kembali ini seperti janjiku, aku harus bisa menghidupi anakku setelah melahirkan, justru para pelangganku banyak memuji aku semakin cantik, montok, padat berisi.



Namun, setahun kemudian aku hamil lagi mbakku kembali marah-marah kata-katanya semakin menyakitkan “Apa kamu mau NYETAK ANAK LAGI?” teriaknya.

aku hanya tersenyum aku sudah malas beradu omong dan mbakku sudah tak menghiraukan lagi anakku yang kedua ini perempuan lagi.



Waktu terus bergulir semuanya mesti terjadi tunas-tunas muda bersemi aku bangga pada anak-anakku dulu ibuku tak bisa menyekolahkanku hingga tamat SD kini aku sanggup membiayai anak-anakku yang sulung sudah lulus SMU, yang bungsu naik kelas dua.



Seperti petir menyambar menusuk hatiku begitu telak dalam waktu yang bersamaan kedua anakku sama-sama mengaku hamil aku benar-benar kelabakan sungguh aneh, aku bisa kebingungan si sulung tak bisa menjelaskan siapa yang menghamili

“Katakan siapa yang menghamilimu?”

ia hanya menggeleng

“Kamu berbuat dengan siapa?”

“Bram, Tony, Kardi, ah masih ada lagi….”

Ya Tuhan, aku menjerit baru kali ini rasanya aku menyebut nama Tuhan.

Rasanya malas untuk bertanya pada si bungsu tapi tetap harus kutanyakan juga

“Aku hanya berbuat dengan Ronggo,” jawabnya tegas.

“Siapa Ronggo?”

“Dia mau bertanggung jawab untuk menikahiku,”

“Apakah dia sudah bekerja?”

“Masih menganggur.”



Tubuhku seperti dilolosi tulangnya aku lemas kembali aku ingat ibuku entah masih hidup atau sudah mati mbakku sudah beranjak tua sudah pensiun dari profesinya hidup bersama lelaki yang sama tuanya tanpa ikatan pernikahan yang sah kepada siapa ku mengadu? Kepada siapa aku musti berbagi?



Sisa waktu yang kupunya entah berapa tahun lagi aku harus terus mencari duit merayu lelaki-lelaki tua berduit aku mau cari duit sebanyak-banyaknya untuk menghidupi anak-anakku ini mungkin cucu-cucuku yang hendak lahir aku hanya berharap, semoga Tuhan tidak memberi anak perempuan!



Dalam pekat malam hari dalam pelukan setiap lelaki aku sering melamun bila seorang diri adakah orang yang menderita sedemikian dahsyat ini? Apakah ini kutukan yang selalu kuterima sampai turunan ke berapakah? Tuhan, aku malu untuk bertanya kepada-Mu walau aku diberitahu bahwa Tuhan pun mencintai pelacur.



... semoga kita semua mendapat hikmah besar dari cerita diatas...

Jika Sahabat ingin berbagi dengan teman-teman kalian silahkan share notes ini..



Terimakasih telah membaca.

Subscribe to receive free email updates: