loading...

Masya Allah..!!, Sungguh Memprihatinkan, Potret Kehidupan Lansia dan Dua Anaknya yang Alami G4nggvan Jiwa

loading...

Kehidupan seorang perempuan lanjut usia (lansia) di Pakem, Sleman, DIY, membuat siapa saja yang melihat merasa prihatin.

Ia tinggal di sebuah rumah yang sangat kotor dan minim cahaya, bersama dua anaknya yang mengalami gangguan jiwa.

Saat petugas datang, kondisi rumah yang hanya berjarak sekitar 5 km dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Ghrasia itu sangat memprihatinkan. Sampah sisa bungkus makanan bertebaran dimana-mana disertai dengan aroma busuk yang menyengat.

Kondisi di dalam rumah berwarna hijau yang dihuni wanita itu lebih parah. Tak hanya bau busuk, tetapi lantai yang semula berwarna putih berubah menjadi kuning, diduga karena kotoran manusia yang hanya diratakan menggunakan kain.

Feriawan Agung Nugroho, salah satu petugas yang datang mengatakan, wanita tua itu tinggal di sana bersama putra sulungnya yang berusia sekitar 55 tahun dan putri bungsunya yang berumur 50 tahun. Saat ini, si ibu yang sudah lansia itu sudah tak bisa beraktivitas normal.

Ia buar air langsung di kasur yang ditiduri hingga basah dan berbau sangat menyengat. Baju yang dipakai juga kotor karena tak diketahui secara pasti kapan itu terakhir kali dicuci.

"Mereka hidup di tengah masyarakat, mengisolasi diri dari dunia luar, hingga akhirnya si lansia dari dalam rumah terdengar suaranya oleh masyarakat selalu berteriak-teriak lapar dan minta bantuan," kata Feriawan,

Saat petugas datang Senin kemarin, si sulung menyambut dengan muka datar dan rambut gimbal. Kulitnya juga hitam, pertanda sudah tidak mandi dalam waktu cukup lama.

Agar tak dicurigai, Feriawan dan rekannya mengaku sebagai petugas dari Puskesmas, yang hendak memeriksa para lansia.

Akhirnya, petugas diizinkan masuk ke kamar lansia yang selama ini selalu berteriak minta tolong. Saat berhasil ditemui, lansia itu tidur di sebuah kasur tua yang kotor.

Bantal dan guling tua menjadi penopang tubuhnya yang kurus kering. Ia pun sempat berteriak karena mencurigai petugas yang datang.

Di sebelah kamar si lansia, ternyata merupakan kamar si bungsu yang bagian pintunya ditutupi lemari. Di kamar itu juga terdapat banyak botol air mineral berisi cairan berwarna kuning, yang diyakini merupakan urine.

Kemungkinan, orang yang menutup pintu menggunakan lemari adalah si sulung, agar adiknya tak pergi ke mana-mana.

Ketika petugas semakin banyak yang datang, anak pertama perempuan tersebut mulai meninggikan nada suaranya karena curiga. Namun, ketua RW berusaha menenangkannya, sementara petugas fokus untuk membawa lansia 81 tahun itu.

Meskipun tanpa menggunakan alat standar, akhirnya petugas memutuskan untuk mengangkat lansia itu. Entah datang dari mana, tetapi tiba-tiba tangan dan baju petugas basah saat menempel dengan pakaian yang dikenakan lansia.

Akhirnya, perempuan itu dibawa ke Puskesmas setempat menggunakan ambulans untuk diperiksa kesehatannya. Sementara si sulung dan bungsu dibawa ke RSJ Ghrasia

Menurut Feriawan, dulu sebenarnya si bungsu merupakan seorang wanita cerdas yang sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Namun karena si ibu terlalu memanjakan kakaknya, akhirnya ia menjadi tertekan.

Itu menjadikan si sulung berbuat seenaknya sendiri. Saat hendak dibawa ke RSJ, petugas juga harus bersabar karena si bungsu membawa berbagai bekal, termasuk makanan yang tak tahu sudah ada sejak kapan.

Selama ini, mereka hidup dari belas kasihan orang. Untuk makanan, terkadang mereka diberi masyarakat sekitar, gereja atau membeli sendiri.



Feriawan menuturkan, saat ini lansia tersebut sudah pulang dari Puskesmas dan dibawa ke tempat adiknya di daerah Pringwulung. Ia belum tahu bagaimana kondisi terakhir perempuan tersebut.

Subscribe to receive free email updates: