Subhanaallah..!!, Kisah Pengemis Naik Haji, Bagaimana Cara Kumpulkan Uang Puluhan Juta


Muhammad Ansori (78), pengemis asal Dusun Lojok, RT 2/RW 5, Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan, naik haji. Ia tergabung dalam kloter 44 yang akan berangkat tanggal 8 September 2015. Bagaimana pria sebatang kara ini menyisihkan uang hingga terkumpul puluhan juta rupiah?



Dalam perbincangan dengan wartawan di rumahnya, Senin (24/8/2015), Ansori mengaku sudah berniat naik haji sejak puluhan tahun lalu.



Pada awalnya, Ansori muda memiliki rumah dan tanah. Namun karena suatu hal, rumah tersebut terjual dan tanahnya juga tak terselamatkan. Istrinya juga meninggal dalam periode ini.



Dengan uang hasil penjualan tersebut ia menyewa tanah warga dan mendirikan rumah seadanya. Karena tak memiliki anak, untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, duda ini berdagang. Bukannya sukses, usahanya malah bangkrut.



Kebangkrutan itu tak membuatnya menyerah. Ia akhirnya ia beralih usaha ternak dengan membeli beberapa ekor kambing. Usahanya beternak juga tak membuahkan hasil.



Saat ia mengalami kebangkrutan dan tak punya apa-apa, ia memutuskan mengemis. Uang dari mengemis itulah yang ia sisihkan untuk ongkos naik haji.



"Setiap hari saya menabung. Setelah untuk makan dan yang lain, sisanya saya titipkan ke toko," kata Ansori dalam bahasa Jawa.



Ansori, mengumpulkan selembar demi selembar rupiah ke toko milik tetangganya, Siti Fatimah (40). Ia mengaku pasrah kepada pemilik toko untuk mencatat tabungannya tersebut. Hingga pada kisaran tahun 2009, uang Ansori yang dititipkan Fatimah terkumpul sekitar Rp 20 juta lebih.



"Dengan uang itu saya langsung daftar. Saat ini daftar awal sebesar Rp 20,5 juta," kisah Ansori.



Setelah berhasil mendaftar, Ansori semakin semangat menabung. Hingga pada tahun 2013, ia mampu melunasi biaya haji dengan membayar Rp 15 juta. Tidak cukup di sana, setelah pembayaran ongkos naik haji lunas, Ansori terus menabung dan mampu mengumpulkan uang sekitar Rp 10 juta. Uang tersebut disetor ke KBIH tempat ia bernaung untuk keperluan dia di tanah suci.



"Selebihnya untuk selamatan nanti saat berangkat. Sekarang tak ada tabungan lagi. Tapi nggak apa-apa yang penting bisa berangkat," kata dia.



Untuk selamatan, Ansori memasrahkannya pada Siti Fatimah, tetangga sekaligus 'bank' di mana Ansori selama ini menabung. Acara selamatan juga akan ditempatkan di rumah Fatimah.



"Pak Ansori sudah pasrah semua sama saya. Nanti selamatan juga di rumah saya. Saya turut senang dia akhirnya bisa naik haji," kata Fatimah yang juga datang ke rumah Ansori.



Selain jadi 'bank' yang dititipi Ansori, Fatimah selama ini juga memperlakukan pria tersebut layaknya keluarga meski tak memiliki hubungan darah. Kenyataan bahwa Ansori sudah tak memiliki keluarga menjadikan dia dan warga lainnya merasa iba.





"Dia kalau makan di rumah saya. Dia kasih uang Rp 15 ribu sehari untuk makan tiga kali," terang Fatimah.

Subscribe to receive free email updates: