Cacing ini katanya Berharga dan Membuat seorang Pemuda dipenjara gara gara mengambilnya

Dipenjara gara gara ngambil cacing dari dalam tanah aneh banget ya tapi hal ini terjadi lho seorang pemuda dipenjara gara gara mengambil cacing, mau tahu kenapa bisa sampai di penjara?
Seperti dikutip dari detik.com Didin (48), warga Cipanas, berurusan dengan hukum karena mengambil cacing di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Cianjur. Pihak TNGGP menyebut hewan yang diambil Didin bukan cacing biasa, melainkan cacing berharga. Namanya cacing sonari. Seberapa istimewa cacing tersebut?
Ada peneliti menyebut nama ilmiah cacing sonari adalah Polyphheretima Elongata. Ada pula yang menyebut Metaphire longa. Ciri fisiknya serupa: berwarna abu-abu, hidup di tanah dan bawah pohon di kawasan pegunungan Jawa Barat.
Panjang cacing sonari bisa mencapai 1,5 meter dan usia hidupnya sekitar 15 tahun. Cacing seukuran itu pernah ditemukan di salah satu pegunungan di Jawa Barat.
Tubuh cacing sonari lembut dan terdiri dari cincin-cincin yang disebut ‘annuli’. Tapi cacing ini berbeda dengan cacing kalung atau cincin. Juga beda dengan cacing tanah di permukiman.
Warga Pegunungan Pangrango menamakan cacing tersebut sonari atau sondari karena kemampuannya ‘bernyanyi’. Pada malam hari, cacing mengeluarkan suara seperti peluit.
Berdasarkan penelitian, cacing sonari paling banyak digunakan untuk pengobatan tradisional, mulai sakit panas hingga tipes. Bisa juga jadi bahan kosmetik dan karena itu jadi komoditas ekspor.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan cacing sonari diperjualbelikan. Harganya sekitar Rp 40 ribu per ekor atau per kilogram.
“Mereka (pencaari cacing) biasanya bekerja per kelompok,” ujar Siti dalam keterangannya, Sabtu (13/5) kemarin.
Siti menyebut, aktivitas pencarian cacing Didin ilegal karena merusak kawasan taman nasional. Pohon-pohon ditebangi pencari cacing. Sekadar diketahui, selain di tanah basah, cacing sonari hidup di bawah akar pohon.
“Tindakan hukum yang dilakukan bukan terkait cacing, tapi lebih kepada memasuki dan merusak kawasan konservasi secara ilegal,” tutur Siti.

Subscribe to receive free email updates: