Kisah Empat Hafiz Quran Bersaudara Asal Koltim, Kesulitan di Juz 16, Perjam Hafal Satu Halaman

Pondok Tahfizhul Quran Al-Huzaifiyyah Masjid Agung Khaerah Ummah Kolaka banyak melahirkan penghafal quran berprestasi. Diantara puluhan hafiz yang “lahir” dari pondok binaan Ustad Bahar itu, diantaranya ada enam bersaudara yang merupakan putra putri dari pasangan Ibrahim dan Saharia, petani asal Kabupaten Kolaka Timur.
Zulfadli Nur, Kolaka
Suara lantunan ayat suci Alquran terdengar dari sebuah pondok sederhana yang berukuran 10 X 15 meter persegi di Jalan Pramuka Kota Kolaka, Senin sore (29/5). Sambil menunggu buka puasa, puluhan anak terlihat sedang sibuk dengan hafalannya. Begitu menyadari bahwa ada yang ingin bertemu, anak-anak yang rata-rata berusia remaja itu menghentikan aktivitasnya dan bersedia diwawancara. Dari puluhan murid yang menghafal, terlihat empat orang yang terdiri dari tiga remaja putri dan seorang remaja putra terlihat begitu akrab. Belakangan, diketahui kalau keempat remaja itu merupakan saudara kandung yang sedang menimba ilmu di Pondok Tahfizhul Qur’an Al-huzaifiyyah. Hebatnya, keempatnya telah menamatkan hafalannya 30 juz.
Mereka adalah Aisyah Ibrahim (19), Kasmarani Ibrahim (16), Imran Ibrahim (12), dan Almagfirah Ibrahim (9). Pemilik Pondok Tahfizul Qur’an Alhuzaifiyyah, Ustad Baharuddin mengungkapkan, keempat hafiz quran itu merupakan anak dari pasangan Ibrahim dan Saharia, warga asal Lambandia Kolaka Timur (Koltim) yang dititipkan orang tuanya untuk menghafal quran di pondoknya.
Kata dia, Ibrahim memiliki tujuh orang anak dan enam orang diantaranya menimba ilmu di pondokya. Dimana satu diantaranya telah menamatkan hafalannya sedangkan lima lainnya masih sementara proses. “Ini empat orang meraka masih di pondok belajar. Sedangkan saudaranya Ismail Ibrahim (25) sedang menyelesaikan S2 nya di Jakarta. Sedangkan yang satunya Imran Ibrahim (20) lagi keluar,” katanya.
Pria yang akrab disapa Ustad Bahar itu menambahkan, keenam bersaudara itu diantaranya telah mengkhatamkan hafalannya 30 juz. “Bahtiar Ibrahim, Imran Ibrahim dan Aisyah Ibrahim itu mereka sudah hafal 15 juz. Sedangkan yang bungsu Almagfirah Ibrahim juga sudah hafal 6 juz. Sementara Kasmarani Ibrahim dan Ismail Ibrahim mereka sudah hafal 30 juz,” paparnya. Tidak hanya sekadar menghafal, kata Bahar enam bersaudara itu juga sering mengikuti lomba tilawatil quran tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional dan menjadi juara.
“Si bungsu Almagfirah itu pernah ikut STQ di Kabupaten Konawe dan juara I. Sedangkan Kasmarani tahun 2016 lalu juara II di turnamen tingkat nasional yang diadakan oleh Kedubes Qatar di Jakarta. Tahun ini juga Kasmarani dan Imran akan mewakili Sultra di ajang MTQ Nasional yang digelar di NTB,” jelasnya. Tidak hanya memuji kecerdasan anak-anak Ibrahim, Bahar juga memuji akhlak anak petani itu. Sebab menurutnya, seluruh anak Ibrahim yang menimba ilmu di pondoknya menunjuk sikap yang sangat sopan. “Semuanya penurut dan tidak pernah ada yang membantah,” tuturnya.
Bahar bercerita, Almagfirah yang merupakan putri bungsu Ibrahim awalnya keberatan dititipkan oleh orangtua di pondok yang kini membina sekira 30 hafiz itu. Namun, lama kelamaan Almagfirah merasa nyaman. “Dia (Almagfirah, red) diantar sama ibunya tahun 2016 lalu. Awalnya dia selalu menangis ditinggal ibunya pulang ke Koltim karena dia itu kalau makan harus disuap. Jadi kalau dia makan istri saya yang suap dan sekarang sudah merasa nyaman tinggal di sini dan sudah menghafal 6 juz,” kenangnya.
Salah satu anak Ibrahim, Kasmarani Ibrahim mengungkapkan, selain karena kemauan orangtua, dirinya dan saudaranya yang lain telah berkomitmen untuk menjadi hafiz quran. Hal itulah yang membuat dirinya rela meninggalkan kampung halamannya demi menimba ilmu di Pondok Tahfizul Qur’an Alhuzaifiyyah.
“Saya memang mau jadi hafiz karena saya mau mengamalkan quran di dalam kehidupan saya. Karena dengan menghafal dan mengamalkan quran itu jaminannya surga,” jelasnya. Gadis pemalu itu mengaku, dalam menghafal quran dirinya sempat menemui kesulitan. Namun berkat bimbingan Ustad Bahar ia berhasil merampungkan hafalannya 30 juz. “Yang susah dihafal itu juz 16 karena banyak surat yang jumlah ayatnya banyak, tapi setiap ayat itu pendek-pendek. Adapun metode yang saya gunakan yaitu menghafal satu halaman per jam,” jelasnya.
Pondok Tahfizhul Quran Al-Huzaifiyyah Masjid Agung Khaerah Ummah Kolaka adalah binaan Pemkab Kolaka. Dalam menuntun muridnya menjadi hafiz quran, pondok yang dibina Ustad Baharuddin itu tidak membolehkan muridnya memegang alat komunikasi dan aktif bersekolah formal selama dalam proses pembelajaran. Selain itu juga, para murid juga harus menetap di pondok. Tujuannya agar muridnya lebih fokus dalam menghafal quran sehingga keinginan untuk menjadi hafiz dapat lebih cepat terealisasi.
Untuk menyukseskan program prioritas yaitu peningkatan nilai agama, Pemkab Kolaka melalui Bagian Kesra juga memberikan bantuan operasional untuk Pondok Tahfizhul Quran Al-Huzaifiyyah Masjid Agung Khaerah Ummah Kolaka. Tahun ini, Bupati Kolaka Ahmad Safei memberikan bantuan senilai Rp 108 juta. Uang itu akan digunakan untuk biaya makan bagi anak-anak yang menghafal di pondok. (*/b)

Subscribe to receive free email updates:

Baca Juga :
loading...