MENGHARUKAN! 15 Menit Sebelum Gugur, Bripda Gilang Sempat WA Sang Pacar, Inilah Bunyinya


Suasana duka dan kehilangan begitu terasa di kediaman keluarga besar Bripda Imam Gilang Adinata, Kampung Srago Gede, Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah.
Gilang, demikian polisi 25 tahun itu disapa, merupakan salah satu korban meninggal dunia pasca terjadinya ledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Keluarga besar merasa begitu kehilangan, mengingat Gilang merupakan sosok yang dibanggakan keluarga. Pasalnya, ia merupakan satu-satunya anggota keluarga yang berhasil diterima sebagai personel kepolisian.
Rohmat Sugiharta, paman korban mengatakan Gilang sempat pulang untuk turut serta tradisi sadranan di kampung halaman akhir pekan lalu. Ia sempat berziarah ke makam kakeknya.
"Dia sempat pulang sehari semalam, kemudian kembali lagi ke Jakarta karena panggilan tugas," ujarnya.
Namun saat pulang dari Jakarta, Gilang tampak kurang semangat. Padahal, kata Rohmat, Gilang merupakan pribadi yang supel dan selalu bersemangat.
Terlebih saat pulang kampung, mengingat sejak kecil Gilang tinggal di Srago Gede.
"Anaknya sedikit lesu dan kurang semangat. Padahal biasanya dia senang kalau ada tradisi sadranan. Tapi pulang kemarin, seperti ada yang beda," paparnya.
Ia juga mengaku kaget dengan kabar meninggalnya keponakannya itu. Menurutnya kelurga mendapat kabar duka pada Kamis dini hari.
"Malamnya saya lihat berita itu (ledakan bom Kampung Melayu), tapi tidak menyangka kalau Gilang ada di situ. Keluarga baru dapat kabar pukul 03.00 dari orangtua Gilang di Jakarta," katanya.
Jenazah Gilang tiba di rumah duka sekitar pukul 17.00 WIB.
Peti mati berselimut kain merah putih langsung digotong menuju Masjid Jami yang berada tak jauh dari rumah duka di Srago Gede, Mojayan, Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Ibu Gilang, Ening Wiyarti, tampak tak bisa menahan air matanya saat mengiringi jenazah putra sulungnya. Kerabat lainnya pun sempat tersungkur lemas sesaat jenazah tiba.
Setelah disalatkan, jenazah disemayamkan di rumah duka lalu dimakamkan di pemakaman Gedong Srago Gede, Mojayan, Klaten Tengah.
Pemakaman dilaksanakan secara dinas kepolisian.
Upacara pemakaman Br­iptu Anumerta Imam Gilang Adinata di Mak­am Gedong, Kampung Srago Gede, Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, Kamis (25/5/2017) (Tribun Jogja/Angga Purnama)
Jenazah Gilang diberikan anugerah kenaikan pangkat menjadi Briptu Anumerta Imam Gilang Adinata.
"Mempersembahkan jasad Briptu Anumerta Imam Gilang Adinata kepada ibu pertiwi," kata inspektur upacara, Karo SDM Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Edi Murbowo diikuti suara tembakan.
Upacara diakhiri dengan penghormatan terakhir kepada jenazah. Prosesi berakhir pada pukul 18.00 WIB.
Briptu Anumerta Imam Gilang Adinata sebelumnya merupakan anggota Subdit Kasum Sabhara Polda Metro Jaya.
Dia gugur saat bertugas mengamankan jalannya pawai obor yang melewati Terminal Kampung Melayu. Di saat bersamaan terjadi peristiwa bom bunuh diri di lokasi ia bertugas.
Sempat Hubungi Pacar
Ening Wiyarti ibunda Bripda Imam Gilang tidak memiliki firasat apapun bahwa anaknya menjadi salah satu polisi yang gugur dalam teror bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Dia terakhir kali berkomunikasi dengan anaknya saat Gilang hendak berangkat untuk bertugas.
"Saya tidak mendapat firasat apa-apa," ujarnya.
Ening mengatakan, Gilang menghubunginya melalui telepon pada Rabu malam sebelum bertugas.
Dia berpamitan untuk menjaga pengamanan pawai obor menjelang Ramadan di sekitar Kampung Melayu.
"Cuma nelepon, pamit kalau jaga pengamanan (pawai) obor jam 19.00, kemudian tahu-tahu ternyata anak saya jadi korban," kata dia.
Pacar Gilang, Dinda Venisita Verina, mengatakan, komunikasi terakhir dia dengan Gilang terjadi sekitar 15 menit sebelum ledakan bom Kampung Melayu melalui pesan WhatsApp.
Gilang kemudian tidak membalas pesan singkat dari dirinya.
"Komunikasi terakhir 15 menit sebelum kejadian, cuma WhatsApp, 'Yang', gitu aja. Saya balas, 'Kenapa yang?', terus enggak dibalas lagi," ucap Dinda.
Dinda mengatakan, mulanya Gilang ingin berkunjung ke rumahnya di Cengkareng, Jakarta Barat, pada Rabu sore.
Namun, hal tersebut urung karena Gilang harus bertugas pada malam harinya.
"Sebelumnya dia pengen ketemu sore, mau ke rumah saya di Cengkareng, karena bertugas jadi enggak bisa," kata Dinda.
Sama seperti Ibunda Gilang, Dinda pun tidak memiliki firasat pacarnya akan gugur saat bertugas.
Dia hanya mengaku pernah bermimpi menikah dengan Gilang beberapa waktu sebelum ledakan bom Kampung Melayu. (ang/wly)

Subscribe to receive free email updates:

Baca Juga :
loading...