Pelajar Ini Tak Malu Jualan 'Slondok' demi Terus Sekolah



Setiap hari ada 25 bungkus slondok yang ia jajakan, sambil menaiki sepeda ontelnya Desi bisa menjual 10-25 bungkus seharga Rp 7 ribu.
Setiap hari, ketika orang-orang masih terlelap, pada pukul tiga dini hari  seorang remaja putera sudah sibuk. Nama pemuda itu, Desi Priharyana,  17 tahun.  Ia duduk duduk di bangku SMKN 2 Jetis Yogya. Pelajar  ini sudah cukup lama menjalani rutinitas sebagai penjual slondok, penganan khas yang terbuat dari singkong.

Demi memenuhi kebutuhan hidupnya, Desi menjalani 3 pekerjaan sekaligus. Saat malam hari ia bekerja sebagai penjaga di sebuah toko kelontong yang terletak di Desa Toino, Pandowoharjo, Sleman Yogyakarta.

Bagi Desi, melakoni beberapa pekerjaan tak jadi masalah asal ia bisa tetap sekolah dan memberikan sedikit uang saku untuk adiknya. Maklum, Kamto ayah Desi, hanyalah buruh serabutan.

Ia juga kerap menjual slondok. Setiap hari ada 25 bungkus slondok yang ia jajakan. Sambil menaiki sepeda ontelnya Desi bisa menjual 10-25 bungkus seharga Rp 7 ribu per bungkus.

" Upah yang saya terima dari jualan slondok sekitar Rp 2 ribu per bungkusnya. Lumayan untuk nambah-nambah beli alat tulis."

Subscribe to receive free email updates: