Dokter Ini Bilang Paud Bukan Tempat Mendidik Tapi Lahan Bisnis,Warganet Beri Reaksi Begini!



Sebuah kul-tweet atau kumpulan tweet dari seorang dokter baru-baru ini jadi viral.

Deretan cuitannya itu telah di-retweet lebih dari 2 ribu kali.

Bahkan sudah ada lebih dari 2 ribu like di sana.

Kultweet ini berasal dari akun @jiemiardian yang dimiliki oleh dr. Jiemi Ardian‏.

Twitter/@jiemiardian ()

Cuitan itu dibuat pada 5 Januari 2018 dan menjadi perbincangan dan perdebatan menarik di kalangan orang tua.

Pasalnya @jiemiardian memberikan pendapat soal PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang bisa dibilang memancing perdebatan.

"PAUD itu bukan pendidikan anak, PAUD itu bisnis atas nama pendidikan anak." begitulah cuitan pertama dari kultweet yang dibuat @jiemiardian.

Kultweet ini lantas disebarkan lagi oleh akun Dodi K Wibowo di Facebook.

Dodi K Wibowo mengunggah kembali kultweet itu pada Senin (8/1/2018).

Menakjubkannya, postingan ini kembali viral dan banyak sekali respon netizen yang didapatkan.

Ada lebih dari seribu like, 17 ribu share dan 500 komentar di postingan Dodi K Wibowo yang berisi kultweet dari dr. Jiemi Ardian‏.

Dodi K Wibowo sendiri memberikan caption yang menarik perhatian.

"Tulisan dari dokter tentang PAUD. Untuk thread lengkap bisa dicek di twitter beliau beserta tanya jawabnya."


"Mohon maaf jika tanya jawab di sini, saya akan jawab sesuai apa yg beliau tulis di twitter. Jadi hanya bisa saya jawab jika sudah pernah ditanyakan di twit beliau. Kalau belum ya maaf saya gak bisa jawab hehe," begitu tulis Dodi K Wibowo.

Dokter ini jelas punya keyakinan dan pendapat sendiri mengapa menyebut PAUD itu bukan pendidikan anak.Kultweet @jiemiardian (Facebook)

dr. Jiemi Ardian berpendapat bahwa anak dibawah usia 4 tahun itu masih belum bisa berfikir formal.

Jadi dia menyarankan orang tua untuk tidak memaksa anaknya sekolah di PAUD.Kultweet @jiemiardian part 2 (Facebook)

Dokter ini juga menunjukkan tabel bagaimana tahap pertumbuhan anak berdasarkan usianya.

Menurutnya anak baru bisa berpikir konkrit pada usia 7 tahun.

Apabila hal itu dipercepat maka akan berbahaya.Kultweet @jiemiardian part 3 (Facebook)

dr. Jiemi Ardian merasa jika proses belajar anak ini dipercepat, anak bisa kehilangan proses perkembangan alamiahnya.

Efeknya jiwa anak yang tidak tumbuh normal akan meninggalkan masa kanak-kanak yang tidak terselesaikan.Kultweet @jiemiardian part 4 (Facebook)

Di akhir kultweet-nya @jiemiardian mengajak para orang tua untuk tiak ikut-ikutan tren semata.


"Yuk berhenti ikut ikutan tren bisnis untuk menyekolahkan anak sedini mungkin. Anak nggak butuh itu, anak butuh orang tuanya. Bukan PAUD yang memaksa anak bisa calistung. Salam sadar"begitu tulis @jiemiardian.

Beberapa netizen lantas memberikan pendapatnya sendiri-sendiri.

Ada yang setuju dengan cuitan @jiemiardian ini.

"Kalau ilmu yang saya dapat memang PAUD itu nggak boleh mementingkan materi yang diberikan. Tapi untuk menstimulasi tumbuh kembang anak. Tapi di lapangan ada beberapa tuntutan yang membuat PAUD menjadi "bisnis"" tweet @endahhwindii

"Anak sy br aja 4th, dr smua anak di sekitar (keluarga, saudara, teman) cm dia yg ndak sekolah dini. 
Dari umur 2,5thn udah dikomen, knp ndak masuk playgroup/paud. Biar main sm temen² & bljr.
Sy & suami cuek. Men kami mending main dl, klo pun dia mo ikut bljr ya d rmh, smbl main." tweet @thiyut.

Tapi yang lainnya tidak sependapat.

"Tergantung sekolahnya bukan dok?" tweet @_selviselv.

"Ta tapi ibuk saya guru paud pak, bangun di bbrp kecamatan dan ga narik biaya (disubsidi pemda), mostly kalangan marjinal yg ditinggal ortunya dagang. Sorry to say statementnya agar ga di generalis gini ya" @heyaziza

Bagaimana pendapat kalian??

Subscribe to receive free email updates: